
KABUPATEN BANDUNG - Menindaklanjuti arahan Kepala Kantor Wilayah Kemenkum Jawa Barat, Asep Sutandar, Kepala Divisi Pelayanan Hukum, Hemawati Br Pandia, bersama jajaran Bidang Pelayanan Kekayaan Intelektual menggelar Audiensi dan Koordinasi Strategis Percepatan Pendaftaran Tembakau Mole sebagai Produk Indikasi Geografis (IG). Kegiatan yang berlangsung pada Selasa (21/4/2026) di Kabupaten Bandung ini bertujuan sebagai wadah sinergi antar pemangku kepentingan dalam membahas potensi, kesiapan, serta langkah strategis pendaftaran IG guna memperkuat identitas daerah dan meningkatkan nilai tambah komoditas lokal.
Dalam kesempatan tersebut, Hemawati Br Pandia menyampaikan bahwa pengembangan tembakau mole sebagai produk IG merupakan langkah strategis untuk meningkatkan daya saing daerah sekaligus kesejahteraan petani. Ia menyoroti pentingnya percepatan pembentukan Masyarakat Perlindungan Indikasi Geografis (MPIG) sebagai prasyarat utama, serta sinergi lintas sektor dalam pemenuhan syarat administratif. Hemawati juga merinci tahapan pengajuan IG, mulai dari penetapan nama, penyusunan dokumen deskripsi produk, hingga penentuan logo. Ia menegaskan komitmen penuh jajaran pimpinan Kanwil Kemenkum Jabar, sejalan dengan visi Kakanwil Asep Sutandar, untuk terus memberikan pendampingan intensif guna mempercepat proses perlindungan kekayaan intelektual komunal tersebut.
Menanggapi dorongan dan dukungan penuh dari Kemenkum Jabar, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Pertanian Kabupaten Bandung, Ria Heriawati, memaparkan bahwa tembakau mole di wilayahnya memiliki potensi yang luar biasa. Dengan luas lahan mencapai 600 hektar dan dikelola oleh sekitar 105 petani dalam dua kelompok tani aktif, Kabupaten Bandung mengandalkan varietas unggulan seperti Kayangan, Simojang, dan Kimarh. Ria menambahkan bahwa komoditas ini memiliki keunggulan pada aspek rupa, aroma, dan daya simpan yang semakin baik seiring waktu, sehingga nilai ekonomisnya pun kian melambung.
Ke depannya, tembakau mole asal Kabupaten Bandung ini ditargetkan mampu menembus pasar ekspor bergengsi internasional, dengan potensi sasaran pasar ke Penang di Malaysia hingga Hamburg di Jerman. Untuk mendukung ambisi tersebut, berbagai inovasi budidaya telah dilakukan, termasuk pembibitan menggunakan sistem tray yang dinilai lebih efisien dengan ketersediaan 100 bibit unggulan saat ini. Penguatan kualitas produk juga dikawal melalui uji laboratorium yang dilakukan secara rutin setiap tahunnya. Pertemuan strategis ini pada akhirnya membuahkan kesepahaman yang solid antar instansi untuk segera merampungkan pembentukan MPIG dan penyusunan dokumen IG.
